Antara Buku dan Rainha Boki Raja, Ratu Pertama Ternate yang Dilupakan

Ilustrasi: dipadukan dari infografik tirto,id dan sampul buku "Rainha Boki Raja". 


Pernah bertemu buku yang sampulnya didominasi warna merah jingga gelap dan sedikit kehitaman yang bertuliskan "Rainha Boki Raja: Ratu Ternate Abad Keenambelas", karya Toeti Heraty, yang terbit pada 2010. Aku seperti merasa tak asing dengan judul buku itu. 

“Rainha Boki Raja!. Mungkin Nukila”, tanya sedalam pikiranku. Karena aku sendiri tidak telalu begitu mengenalinya. Ibarat kaca yang tertera debu, kejelasan orang tua-tua yang masih menggunakan pendapat mereka masing-masing. Tetapi paling tidak aku sudah mendapatkan informasi sedikit tentang Nukila.  Nukila adalah perempuan pertama yang pernah menjadi raja di kerajaan Kesultan Ternate, terlintas dibenakku untuk mencari lembar-lembar ingatan lama itu.

Selama dua menit berselang mataku terus menatap di atas tumpukan-tumpukan rak itu. Rasa perasaanku seakan mengajak langkah kakiku untuk mendekatkan pada buku yang sedari tadi mengganggu pikiran dan mataku. Jaraknya tak jauh dari pandangan. Belum sempat langkah kaki diayunkan menuju ke rak buku itu, ada suara teriakan dari lantai satu untuk meminta bantuan.

“Ngana di mana, bantu dulu”  suara teriak dari bawah.
“Ada di lantai dua, tunggu ada turung ni," sahutku.
Aku pun bergegas seperti kilat, mengejar suara yang terpantul dari ruang berlantai itu. 

Dari situlah rasa penasaran itu hilang dilahap waktu. Belum lagi kesibukan diluar, mengurusi organisasi kampus maupun ekstra. Hingga membuat ingatan tak lagi terhubung dengan buku yang kemarin sempat menuntut untuk membacanya. Buku itu seperti ada kekuatan magis yang menari merasuki hingga lubang sejarah yang mistik. 

Hari-hari pun mengajakku berjalan menelusuri di setiap derap langkah. Melintasi senja dari ufuk barat,  fajar di ufuk timur, menikmati malam dengan taburan bintang-bintang, serta rembulan yang kerap kali datang.  Kadang sering berselingkuh di malam-malam panjang,  atau bahkan terlalu berani menentang nestapa dan menghitung berapa waktu yang dihabiskan, berapa tenaga yang dikeluarkan, dan berapa pikiran yang dituangkan untuk memancarkan energi cahaya di ruang-ruang kampus. Agar kampus tak harus menjadi kuburan atau tembok yang memenjarakan.

Semua itu mengalir selama satu tahun tanpa mengingat kembali buku yang  terselip dirak. Mungkin telah berdebu, di makan rayap, atau bahkan di culik orang. Karena selama satu tahun, aku sendiri tidak terlalu aktif dan jarang datang ketempat itu. Tetapi sepengetahuanku, tempat itu berpenghuni, yang kerap kali menjadi obor untuk menerangi peradaban literasi, dan merawat buku seperti merawat pacar. Tempat itu biasa disebut sebagai ‘Rumah Pencerahan’.  Di mana para penghuninya dijuluki orang-orang sekitar sebagai pendekar literasi.

Entah mereka berspekulasi dari mana, mungkin karena lebih banyak sibuk dengan kegiatan literasinya. Ketimbang sibuk mengurusi hal-hal yang tak berfaedah. Dan kebutulan aku juga bagian dari mereka. Aku sendiri kenal betul teman-teman seperjuangan. Mereka rela menghabiskan waktunya dengan buku-buku tanpa mengenal lelah dan tak mengenal lapar, selalu saja ada cara untuk bertahan hidup. Dan aku sendiri sempat merasa iri terhadap mereka. karena satu dekade, aku tak bergabung, dan kulewatkan kesempatan bersama mereka. Sampai-sampai mereka membuat beberapa buku yang di dalamnya tak ada satu pun tulisanku. Kalau boleh dikatakan, aku sendiri cukup menyesal, tapi tak apa, yang lalu biarlah berlalu. 

Suatu hari, saat aku duduk santai bersama beberapa mahasiswa dikampus, pendopo, mereka menanyakan soal Nukila kepada ku.
“kak, Nukila itu sapa?, ditaman, dong kase nama taman Nukila?” tanya seorang perempuan diantara mahasiswa itu. 

Aku tersentak, aku ingin memarahinya,  "kenapa ngana sedikitpun tidak kenal nukila," pikirku dalam hati. Walaupun aku sendiri tidak begitu kenal baik dengan Nukila. Tapi paling tidak ada sepenggal pengetahuan yang pernah aku resap tentangnya.

Aku masih terdiam. Wajahku tampak sedih berkecambu geram. Aku coba menenangkan amarahku sembari mengatur bait dan kata demi kata untuk menggambarkan sosok Nukila.

Dengan dingin, aku memulainya:
“Nukila itu sala satu raja di masa kejayaan Tarnate, dan Nukila menjadi raja pertama perempuan di Tarnate”

“Oh.. berarti Ternate ni ada raja seorang perempuan,” ucapnya menengahi pembicaraanku.

Aku sedikit legah. Pertarungan batinku sedari awal redup. Dengan leluasa aku menyambut pengertiannya.

“Iyo, jadi ngoni patut bangga, jang cuman ngoni kanal Kartini saja, padahal tong pe pahlawan parmpuang me ada lagi” terangku seperti sinyal terpaut diantara kita. Aku semakin merasa bisa. 

Saat itu mereka seperti mendapatan energi baru, sehigga membuat mereka seperti begitu bersemangat menjadi seorang perempuan.

Selepas dari situ ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku “tapi apa e!” sambil mencari-cari diingatan yang lapuk. Ingatan tua itu seperti menghantui diriku dari cerita Nukila bersama Dwi, Ila, dan kawan-kawan lainnya. Sampai-sampai ia mengikuti di ruang tak sadar beberapa kali. 

Hasratku semakin bergebu-gebu dan akhirnya pada suatu hari ditepian malam, ingatan itu tampak secara terangan-terangan. Padahal sebelumnya aku sudah menyerah untuk tak lagi memikirkan ingatan itu. 

“Oh iyo, buku di 'rumah pencerahan' tentang Raina Boki Raja, astaga selama ini” sambil memukul jidak menyalahi ingatan sendiri.

Pada saat itu pula aku sendiri seperti kegirangan dan tak peduli pada siapa pun dan apa pun. cengar-cengir seperti orang gila. Tak tahu apa yang merasuki, tapi yang pastinya aku sangat senang. Pada malam itu pula aku langsung bergegas menuju ke Rumah Pencerahan untuk mencari buku yang sudah satu tahun tak sempat dibaca itu. Tibanya aku di Rumah Pencerahan, tanpa basa-basi dengan teman-teman penghuni, aku langsung menuju kelantai dua dan mencari buku yang terselubung diantara rak-rak buku berjumlah sekitar 3.000-an itu.

Aku mencari seperti harta karung selama satu jam lebih. Ya! apa daya, bukunya sangat banyak dan mesti diperiksa satu persatu. Dan aku pun menemukan harta yang tidak bisa di tukar dengan uang atau emas sekali pun. Buku "Raina Boki Raja".

Setelah menemukannya, aku langsung mengambilnya dan menaruh buku itu diatas meja. Lalu aku melahap seperti makanan surga yang turun dari langit. 

Tetapi sebelum itu aku merasa ada yang kurang. Langit seperti lupa menyediakan kopi. Aku turun kelantai satu untuk membuatnya. Kebiasaanku, membaca tanpa kopi seperti sangat kesulitan memahami isi buku. 

Pada malam itu, semua terasa hening, angin-angin bertiup tanpa biasanya, dan suara-suara malam berbisik-bisik. Sambil menatap buku dengan sangat dalam. 

“Sapa sebenarnya Rainha Boki Raja ini ka, bikin tong penasaran sampe setengah mati bae-bae” sambil menatap sampul buku itu sembari bertanya-tanya dalam benak.

“Bismillah”, dengan antusias lembar demi lembarku buka. Hingga puncaknya aku mengerti dan tahu sebenarnya sosok Rainha Boki Raja. "Ternyata dia adalah Nukila yang telah aku kenali" pikirku membenarkan ingatan yang kian buram itu.

Dengan membaca buku itu, aku banyak mengetahui tentang Nukila dari sebelumnya. Aku merasa legah. Seperti hutang yang telah dibayar lunas, semua rasa penasaranku terjawab.

Nukila mulai diakui oleh Antoni de Barito, seorang Gubenur portugis, sekitar tahun 1523 sampai diserahkan kekuasaannya pada Sultan Khairun. Kematiannya pun  tak diketahui pasti. Masih menjadi teka-teki. Namun, patut dibanggakan, ia telah menjadi pahlawan di Negeri "Moloku Kie Raha".

Walaupun belum diakui sebagai Pahlawan Nasonal, tetapi aku sendiri telah mengakuinya. Betapa hebatnya ia menjadi bagian sejarah besar tanah ini.

Setelah aku membaca buku itu. Aku seperti membayangkan, (mungkin) masih ada perempuan sehebat dia (nanti) di negeri ini. Namun, generasi kita, jangankan (membayangkan) menjadi seperti Nukila, Boki Raja ditanah kapita, mengenalinya saja  pun masih dipertanyakan.

***
Agustus 2019. Aku diperintahkan oleh ketua lembaga kami untuk menjemput Opa dan sekaligus mendampinginya selama ia di Ternate. waktu itu Opa ingin sekali pergi ke benteng Kastela dan kami dengan senang hati mengantarkan Opa bersama Abang dan kakak Ul.

Sesampainya di benteng, kami bercakap-cakap soal sejarah besar yang terjadi di benteng Kastela. Mulai soal sultan Khairun yang dibunuh pada tahun 1570 sampai pada perjuangan Nukila. Wajahnya sangat berseri ketika menceritakan Nukila. Bahkan matanya menggambarkan duka yang teramat dalam. Sampai pada saat Opa balik pun cerita Nukila masih tergenang dipikiranku. 

Sayangnya, orang-orang hebat seperti Opa dan para orang tua terdahulu sangat mengagungkan Nukila. Namun, generasi kita malah sebaliknya, membiarkan sejarah negeri sendiri pepes begitu saja. Padahal mereka, generasi kita disini adalah orang-orang yang lahir dan besar di tanah dodomi mereka sendiri. Mereka bahkan mengenal Nukila hanya sebatas "Taman Nukila", selebihnya tidak. 

Bagaimana mengenali pahlawan-pahlawan besar bangsa ini, sedangakan kita saja tak (mau) mengenali pahlwan dinegeri atau daerah sendiri.

Aku pernah beberapa kali dapati hal-hal yang menurutku konyol. Suatu ketika, aku menanyakan Nukila pada seorang teman bernama Nyong. Dia membuatku membenarkan klaim umum bahwa Nukila hanya sebatas taman disamping Mesjid Raya Ternate, bukan seorang ratu yang dicatat dalam beberapa buku sejarah, terutama buku karya Toeti Heraty ini.

Percakapan kami waktu itu kira-kira begini: 
ngoni kanal Nukila ka tarada” tanyaku padanya.
“Oh.. yang di taman itu tu?” jawabnya menengahi. “iyo ngoni kanal” lanjutnya menjawab.
“me itu dia penama taman sudah mo apa lagi coba” sambil tertawa.
Aku menyudahi sambil mengatakan “OK”.
***
Selesai.


Penulis: Muhlis Wahid
Editor: Ajun

Catatan Pinggir Editor

Judul buku : Rainha Boki Raja: Ratu Ternate Abad Keenambelas
Pengarang : Toeti Heraty
Penerbit : Komunitas Bambu, 2010.
Jumlah halaman : 157.

Banyak orang tidak mengenal lagi siapa sebenarnya Rainha Boki Raja. Termasuk saya sendiri yang baru mengenalnya beberapa waktu lalu saat duduk berdiskusi ringan dan singkat bersama Andi, anggota aktif Independesia yang juga pernah menulis panjang catatan soal Raina Boki Raja.

Sepengetahuanku, Rainha adalah puteri sultan Tidore, Al Mansur. Kelahirannya masih misterius, namun, dalam catatan Andi, Raina diperkirakan lahir sebelum tahun 1500 Masehi (merujuk dalam buku itu dihalaman 2). Raina menikah dengan Bayanullah (1500-1522) dan menjadi permainsuri sultan Ternate itu. Mereka memiliki 2 orang anak, yakni Boheyat dan Deyalo. Boheyat kelak menjadi sultan Ternate ke-22, pada 1522-1532 dan Deyalo menjadi sultan Ternate ke-23, 1532-1533, melanjutkan Boheyat. 

Pasca meninggalnya Bayanullah, kehidupan Rainha Boki Raja  seperti matahari dimusim penghujan. Sedih bercampur luka-lara. Intrik politik waktu itu menegangkan. Boheyat ditawan Portugis kemudian mati diracun pamannya sendiri.

Rainha dikenal cukup pemberani. Seperti elang, ia tak pernah takut menghadapi musuh. Terutama Portugis yang menjadi penjajah waktu itu. Bersama pasukan, Ia mengangkat senjata mengepung Portugis dan membunuh Gubernur Jenderal Portugis ke-4, Gonzales Pereira, pada 1530. Sosok perempuan pemberani ini bisa dibilang cukup mempermalukan penjajah Portugis. Tak terima dipermalukan, sekitar 5 tahun kemudian Rainha, bersama suaminya dan anaknya ditawan Portugis. Itu terjadi setelah Rainha Boki Raja  menikah dengan Pati Sarangi dan memiliki anak  Tabaridji, yang kelak menjadi sultan Ternate ke-24.

Ketiga keluarga itu diasingkan ke Goa. Dalam pengasingan itupula, anaknya Tabaridji berpindah agama dan dibaptis bernama Dom Manuel. Rainha Boki Raja pun kemudian masuk agama Katolik dan dibaptis dengan nama Dona Isabel. Sekitar 2 tahun kemudian mereka dikembalikan ke Ternate, namun berselang kemudian Tabaridji mati diracun. Khairun, saudara tiri Tabridji kemudian menjadi Sultan Ternate. Ia menguasai seluruhnya.  

Sedikitnya itu yang ada dalam catatan saya setelah mengikuti beberapa diskusi dan beberapa orang teman yang kadang bercerita soal Rainha Boki Raja. Salah satunya Aco, sapaan akrab Muhlis, yang juga aktif di Perpustakaan Independensia. Aco memang "sengaja" mengajak saya untuk berpikir keras juga mengembalikan ingatan tentang Rainha. Saya belum sempat membaca bukunya, hanya melihat buku itu saat berkunjung pertama kali  di perpusatakan Independensia. Itupun saat Muhlis membacanya. Semoga, dengan membaca kembali sejarah-sejarah bangsa dan terutama sejarah Moloku Kie Raha, ingatan kita semakin pulih.[]
Lebih baru Lebih lama