Kisah Suku Bajo, Pengelana Laut yang Terancam Eksplorasi Pertambangan

Suasana diskusi film dokumenter "The Bajou" di JMG Coffee, BTN. (lpmkultura/Ajun)
LPMKULTURA.COM -- Malam itu begitu riuh. Puluhan orang dari berbagai elemen turut memenuhi Jala Malut Grup (JMG) Coffee, Sabtu (18/1/2020) malam di Jln BTN kota Ternate Tengah. Kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter "The Bajou" karya rumah produksi Watchdoc ini diputar sekitar 27 kota di Indonesia, salah satunya di Kota Ternate. 

Film yang disutradarai Dandhy Laksono berdurasi 1 jam 20 menit ini diinisiasi oleh Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Ternate. Sekira pukul 21.00 WIT, mulai dilayarkan dengan menampilkan perbedaan kehidupan suku Bajo yang ada di Morombo, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo. 

Suku Bajo ini pada awalnya memang terkenal dengan keperkasaanya di lautan. Bahkan sempat mendapat julukan gypsy laut. Namun, mereka harus menerima kenyataan pelik, dipaksa beradaptasi dengan perubahan sosial yang tidak seramah dulu. 

Air laut tercemar, terumbu karang rusak, pendapatan menurun akibat ulah dari pertambangan dan perkebunan dari korporasi kapitalis membuat mereka harus bertahan dengan kondisi demikian.

Dalam film yang di buat untuk mendonasikan kepada suku Bajo itu tampak ada perbedaan. Suku Bajo di Gorontalo masih bisa menikmati tangkapan ikan yang melimpah, namun suku Bajo di Morombu harus berjuang.

Kedua suku yang telah berabad-abad lamanya menjadi pengelana laut ini harus merasakan pahitnya hidup diatas sumber mata pencaharian yang tak lagi seindah dahulu. 

Dalam diskusi itu, dihadirkan pula Peneliti di Yayasan The Tebings, Irfan Ahmad dan Praktisi Hukum, Hendra Kasim. Keduanya membahas film ini dari beberapa sisi. 

Irfan Ahmad misalnya, memulai dengan mengulas keterkaitan antar suku Bajo yang ada di Sulawesi dan suku Bajo yang tersebar di Maluku Utara. Terutama suku Bajo di Kota Ternate.

Irfan Ahmad, saat memaparkan soal kehidupan suku Bajo di Maluku Utara dan relasinys dengan suku Bajo di Sulawesi (lpmkultura/Ajun)
Hendra Kasim pun melihat dari 'tercerabutnya' pengakuan atas hak ulayat suku Bajo diperairan atau potos kemaritiman dengan kontitusi Indonesia yang kadang 'timpang'.

Rian Hidayat, salah satu anggota PPMI Carateker Kota Ternate, mengatakan selain bertujuan untuk mendiskusikan dan nobar, juga melakukan penggalangan dana untuk masyarakat suku Bajo yang kehidupannya tergantung diatas laut. 

"Karena ini juga merupakan misi kemanusiaan, jadi torang pun antusias mengambil bagian dari penyelenggaran film ini," ujar Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mantra itu.

Selain itu kata Rian, tujuan pemutaran filim ini juga untuk memperkenalkan kepada khalayak bahwa inilah dinamika orang Bajo di Sulawesi.

Rian menuturkan bahwa negara ingin memukimkan suku Bajo, namun disisi lain suku Bajo sendiri menganggap pemukiman bukanlah tempat hidup bagi mereka. Pencemaran air laut dan lingkungan suku Bajo, trmasuk orang-orang yang disebut Rian bejat.

Trailler film dokumenter "The Bajou"  produksi Watchdoc.

Rian berharap, film ini menjadi pemantik kesadaran terutama warga yang tinggal di pesisir wilayah perairan Maluku Utara, yang hidup di bagian kepulauan dan mata pencahariannya nelayan.

Pemutaran film ini bentuk kerja sama dari PPMI Kota Ternate, yang terdiri dari LPM Mantra (Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun), LPM Kultura (Fakultas Pertanian Universitas Khairun), UKM Jurnalistik (Universitas Muhammadiyah Maluku Utara), dan Lempersma IAIN Ternate.


Reporter: Ajun

0 Response to "Kisah Suku Bajo, Pengelana Laut yang Terancam Eksplorasi Pertambangan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan dibawa artikel