Pentingnya Independensi Jurnalisme

Ilustrasi/tribun

“Kepada siapa wartawan menempatkan lotalitasnya?”

*Oleh: Abubakar Ismail

SAYA MENDAPATKAN KIRIMAN SEBUAH pamflet dari seorang teman via WhatsApp, pamflet dengan gambar mesin ketik antik dan di bawahnya terdapat tulisan "Jurnalis bukan Jurkam" dengan sepenggal pesan darinya dalam bentuk pertanyaan, "Menurutmu bagaimana jurnalisme kita hari ini?" Saya tidak membalas pesan itu, saya memilih menulis agar dapat menjawab pertanyaannya dengan lebih jelas dan juga sebagai resensi saya atas apa yang saya diskusikan dengan Andreas Harsono lewat bukunya, “Agama" Saya Adalah Jurnalisme (2010) beberapa hari lalu.

Andreas membuka antologinya "Agama" Saya Adalah Jurnalisme dengan mengutip wartawan senior Amerika Serikat yang menurutnya nyaris tanpa cela, Bill Kovach. Andreas sendiri pernah dekat dengan Kovach ketika mendampingi Kovach dalam peluncuran buku “The Elements of Jurnalism” di Indonesia, karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Kovach juga merupakan kurator Nieman Foundation di Universitas Harvard (semacam sekolah wartawan). 

Di Indonesia ada beberapa orang yang dapat merasakan langsung bimbingan Kovach di Nieman Foundation, termaksud Andreas Harsono (Pantau), Sabam Siagian (The Jakarta Post) Goenawan Mohamad (Tempo) dan Ratih Hardjono (Kompas). Di sana, Kovach melatih wartawan-wartawan dari berbagai belahan dunia untuk memahami pilihan mereka dalam jurnalisme. Tekanannya jelas: memilih kebenaran.

Kemarin saat hujan sedang deras-derasnya, saya membaca berita di media daring tentang empat fraksi di DPRD Tidore Kepulauan (Tikep) yang menolak Laporan Pertanggungjawaban Keuangan (APBD) Walikota dan Wakil Walikota Tidore Kepulauan. Kedua kubu ini melancarkan perang opini lewat media, saya sendiri kesulitan menarik prespektif tentang soal ini. Yang mana benar dan yang mana salah sudah buram, padahal media seharusnya menyajikan informasi agar pembaca mampu dengan sendirinya menarik kesimpulan.

Kalau menurut Parni Hadi, jurnalisme bukan hanya melaporkan peristiwa, namun ada hal yang tidak bisa dilupakan pewarta. Wartawan bukan nabi, tapi wartawan menjalankan tugas kenabian, mewarta bukan sekedar mencari uang, tapi menunjukan kebenaran hingga masyarakat mengetahui apa itu kebohongan, begitu pun sebaliknya. 

Dalam buku “The Element of Jurnalism” Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan Sembilan Elemen Jurnalisme. Kesimpulan ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1. 200 wartawan dalam periode tiga tahun. Kovach dan Rosenstiel menempatkan elemen jurnalisme pertama adalah kebenaran. Mereka menyampaikan bahwa, masyarakat butuh prosedur dan proses guna mendapatkan apa yang disebut dengan kebenaran fungsional. 

Orang selalu bertanya, apa objektifitas dalam jurnalisme? Apakah wartawan bisa objektif? Kovach dan Rosennstiel menjelaskan, pada abad 19 orang tidak mengenal objektifitas itu, wartawan masa itu lebih memakai apa yang disebut dengan realisme. Mereka percaya jika seorang wartawan menggali fakta-fakta dan menyajikannya begitu saja, maka kebenaran akan muncul. Namun di abad ke 20 beberapa wartawan meragukan realisme itu.

Lalu bagaimana wartawan menulis berita? Wartawan harus menguasai semangat ilmu pengetahuan, metode jurnalisme bisa objektif, tapi objektifitas ini bukanlah tujuan. Objektifitas adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. Sayangnya pemahaman orisinal terhadap objektifitas akhir-akhir ini diartikan keliru, dan itu telihat pada beberapa media yang menyajikan berita tentang polemik DPRD Tidore Kepulauan dan Pemerintah Kota Tidore Kepualaun akhir-akhir ini. Menurut Kovach dan Rosenstiel dalam hal verifikasi ruang redaksi harus melakukan penyuntingan secara skeptik, penyuntingan harus dilakukan baris demi baris, kalimat demi kalimat, dengan sikap skeptis. Dengan banyak pertanyaan dan banyak gugatan.

Pentingnya independensi jurnalisme
dalam sebuah kesempatan, saya berjumpa dengan Andreas Harsono pada sebuah diskusi virtual. Andreas bilang, untuk menulis kau hanya perlu mengetahui apa yang kau tulis dan yang paling penting kau harus berani. Itu juga ia tegaskan dalam bukunya, Andeas mengungkapkan wartawan harus berani menulis dan tulisannya harus berbasis riset. Agar ketika disajikan ke publik, publik tidak tersesat dalam mengambil sikap.

Namun, soalnya kini, adalah kepada siapa wartawan menempatkan loyalitasnya? Pada pembaca? Pada perusahaan? Atau pada masyarakat? Pertanyaan ini penting dijawab, menurut Bill Kovach, sejak 1990-an banyak wartawan Amerika yang berubah menjadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan separuh wartawan Amerika mengabiskan setidaknya sepertiga waktu mereka untuk urusan manajemen ketimbang jurnalisme. Ini tentu memperihatinkan, sebab, wartawan punya tugas sosial yang tak jarang bisa melangkahi kepentingan perusahaan di mana mereka bekerja.

Jadi indepensi jurnalisme juga terjual di sini, ini titik persoalannya, banyak media yang mengagung-agungkan kekuasaan dengan menyajikan informasi tentang prestasi pemerintah dan banyak juga yang menantang kekuasaan dengan menyajikan informasi tentang keburukan penguasa. Bila jurnalisme kita sampai pada titik ini tentu akan menyulitkan pembaca menarik kesimpulan dari dinamika tersebut. Hal ini jelas jauh dari cita-cita jurnalisme dan esensinya. Wartawan harusnya berani menulis, membongkar keburukan agar masyarakat tahu yang mana kebaikan, pula sebaliknya.

Banyak penulis Indonesia yang dengan berani mengungkap kejahatan kekuasaan. Pramoedya Ananta Toer salah satunya. Pram bilang, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keadilan.” Saya bukan menggurui, saya sarankan wartawan harus banyak menulis, dan tulisannya harus berbasis riset. Andreas berpesan, ada dua syarat agar kita bisa bekerja untuk keabadian (menulis), yakni: “Kau harus tahu dan kau harus berani.”

Pramoedya dan Thukul adalah orang-orang berani. Pram dipenjarakan oleh Belanda, Soekarno dan Soeharto. Perpustakaan Pram dibakar, buku-bukunya habis, kuping Pram sampai tuli, gara-gara hajaran serdadu, sedangkan Wiji Thukul hilang hingga kini. Menulis adalah laku moral, menulis adalah kegiatan yang bicara soal kebenaran, maka kita harus berani mengungkap kebenaran. Wartawan harus banyak menulis dan apa yang ditulis wartawan tentu akan mempengaruhi opini publik, maka kuncinya adalah riset dan riset.

Pernah satu waktu, Bill Kovach bertemu dengan Presiden Jimmy Carter di Gedung Putih Amerika, Kovach diajak ngobrol oleh Carter, mereka bicara soal informasi bagi seorang politikus dan seorang wartawan. Carter berkata, “Ketika anda memiliki kekuasaan, Anda menggunakan informasi untuk membuat orang mengikuti kepemimpinan Anda. Namun, kalau Anda wartawan, Anda menggunakan informasi untuk membantu orang dalam mengabil sikapnya sendiri."

Carter benar sekali, informasi yang sama digunakan untuk dua tujuan yang berbeda. Bahkan berlawanan. Seorang wartawan harus indpenden dari dunia politik maupun polotisi. Dan inilah salah satu elemen jurnalisme yang Kovach maksudkan. Loyalitas utama seorang wartawan ada pada warga masyarakat. 

Wartawan hanya akan bisa melayani warga masyarakatnya bilamana mereka bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. Karena bila wartawan tidak independen dan berat sebelah seperti mengagungkan kekuasaan atau melawan kekuasaan, dia akan mempunyai sikap yang berbeda terhadap informasi. Ada baiknya, perusahan berita tidak merekrut wartawan semacam ini, karena ini akan menimbulkan citra kurang baik dari masyarakat terhadap media Indonesia, apalagi pada masa demokratisasi sekarang ini, masyarakat butuh informasi yang bermutu untuk mengambil sikap tehadap berbagai isu penting di Indonesia.[]


*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Teknik dan pengurus Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kultura.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama